Senin, 22 Juni 2015

Hal Mendasar dalam Pernikahan yang Sering Terlupakan

             Menikah adalah moment terindah yang diinginkan setiap insan manusia. Beberapa bayangan muncul, ketika kata ‘menikah’ terungkap. Misalnya berpelukan mesra bersama pasangan, bercanda bersama di ruang televisi sambil menonton film favorit, makan bersama di satu meja makan di rumah yang sama, kemudian lahirlah anak yang tlah dinanti, bercanda ria bersama anak anak sampai tua, sampai memiliki cucu, sampai rambut tak lagi hitam. Indah nya terbayangkan.
            Bagi yang sudah menikah, mungkin akan tertawa geli membacanya. Karena setiap pernikahan pasti akan ada cobaan atau masalah. Menyatukan dua manusia yang sebelumnya tidak saling mengenal adalah hal yang tidak mudah. Tapi bukan berarti menikah adalah hal yang mengerikan. Seperti apapun masalah yang nanti akan dihadapi pasti akan ada solusi nya.
        Pernikahan bukan lah suatu candaan yang dijalani mengikui arus saja, mengalir bagai air, terbawa tertiup angin. Tidak! Pernikahan harus dijalani dengan penuh arah, tujuan dan aturan. Jika dijalani dengan suka cita, maka tidak akan ada keterpaksaan. Karena kehidupan tanpa aturan hanya akan menjadi kehidupan yang hampa, tak berarti dan kelak Anda tidak menyadari apa yang sudah Anda lewati slama ini.
           

Berikut ini adalah hal mendasar yang semestinya dilakukan oleh setiap pasangan suami istri, tapi kadang terlupakan dan menjadi hal yang sepele bagi mereka. Yuk simak dan coba bahas dengan pasangan Anda.
            1.  Mengetahui Jati Diri
Ketika Anda dan pasangan masih diberikan waktu berdua, silahkan memanfaatkan waktu dengan sebaik baiknya untuk saling mengenal pribadi masing-masing. Ungkapkan semua hal mengenai diri Anda pada pasangan. Jangan ada yang ditutupi dan setiap selesai mengungkapkan jati diri, slalu akhiri dengan hikmah apa yang bisa diambil. Jadi seburuk apapun Anda pada masa lalu, Anda tlah mengetahui kesalahan Anda dimana dan berusaha untuk tidak kembali ke masa lalu yang buruk itu.
2. Mengetahui Metode Pengasuhan Orang Tua Anda, Dahulu
Setelah mengetahui jati diri masing-masing, Anda juga harus mengenal seperti apa background keluarga Anda dan pasangan Anda. Seperti apa Anda dulu di didik. Tipe orang tua seperti apakah orang tua Anda. Kemudian apa yang Anda rasakan tidak baik dan merupakan efek dari metode mendidik orang tua Anda yang kurang tepat. Lalu apa yang Anda rasakan sangat bermanfaat dan merupakan buah kebaikan dari metode mendidik orang tua Anda yang tepat. Kenapa Perlu mengetahui hal itu? Karena kelak Anda akan menjadi orang tua yang akan mendidik dan membesarkan anak- anak Anda. Anda harus mengetahui dengan metode apa Anda mendidik mereka.
Setelah belajar dari pengalaman orang tua masing-masing, Anda bisa mencari di literature atau buku buku terkenal mengenai bagaimana metode pengasuhan yang tepat. Bisa juga Anda mengikuti berbagai seminar parenting untuk menambah pengetahuan. Atau sharing dengan orang tua, tante, paman tentang adat istiadat di keluarga yang sulit untuk dihindari sehingga kelak keluarga yang Anda bina harus bisa menyesuaikan dengan anat tersebut, tentunya adat yang tidak bertentangan dengan agama Islam ya, kalau bertentangan maka Anda dan keluarga bisa mengambil keputusan tegas untuk tidak mengikuti nya. Kondisi “zaman dahulu” dengan “zaman sekarang” berbeda, misalnya dari segi makanan yang sudah tidak se-alami zaman dahulu, kondisi lingkungan, polusi, bakteri yang sudah berevolusi di zaman sekarang, hal-hal tersebut harus menjadi bahan pertimbangan Anda untuk tidak menggunakan metode pengasuhan “zaman dahulu” lagi. Al-Quran dan Hadist sudah cukup menjawab kesulitan yang Anda dan pasangan Anda alami kelak. Maka jangan jauhkan diri Anda dari pedoman tersebut.
3.       Keluarga Adalah Sebuah Organisasi
Tanpa Anda sadari bahwa menikah adalah layaknya organisasi. Ada ketua dan sekertaris dan tentunya anggota. Suami adalah ketua organisasi. Sekertaris dan bendahara merangkap pada istri. Anggota yang memiliki seksi seksi tertentu adalah anak-anak Anda. Ketika anak masih kecil memang peran anak sebagai anggota organisasi belum terlalu terasa, tetapi apa yang kita tabur ketika ia masih kecil adalah apa yang akan kita tuai di kemudian hari. Sebuah organisasi tanpa visi dan  misi, tidak akan bertahan lama karena tidak jelas arah nya.
Anda dan pasangan sudah mengetahui plus dan minus nya dari pasangan Anda, bahkan Anda sudah mengetahui kenapa pasangan Anda plus di sini, atau minus di sana, mungkin karena metode pengasuhan orang tua nya yang ‘begini’ atau ‘begitu’. Anda tidak mau kelak Anda seperti minus-nya pasangan Anda, maka Anda tau bahwa Anda tidak boleh mendidik anak Anda seperti ‘ini’. itu adalah gambarannya.
Mulai lah terbuka visi dan misi keluarga Anda seperti apa. Anda boleh mengetik visi dan misi nya lalu di print, di bingkai dan ditempel di dinding mana yang menurut Anda bisa saling mengingatkan. Lebay yah, terdengarnya. Tapi taukah Anda,itu adalah Nota Kesepakatan yang tlah Anda buat bersama suami. Ketika salah satu keluar dari kesepakatan itu, maka Anda tidak perlu sibuk membuka file, Anda cukup bawa pasangan Anda ke dinding dan perlihatkan kesepakatan itu. Berikut adalah contoh nya :
Keluarga Roni dan Rani
Visi :
Menjadikan keluarga yang diridhoi Allah, penuh berkah dan selamat di dunia dan di akhirat.
Misi :
1.       Megawali setiap kegiatan diawali dengan niat yang baik karena Allah
2.       Melakukan kegiatan sesuai dengan Al-Quran dan Hadist
3.       Tidak pernah meninggalkan Shalat
4.       Melakukan silaturahmi
Disepakati oleh :

                    Roni                                                                                                       Rani

Berikut adalah contoh nyata visi dan misi yang sudah disepakati oleh masing masing pihak. Anda bisa membuat nya lebih detail sesuai dengan keinginan Anda dan pasangan. Ditambah dengan program kerja keluarga per minggu atau per bulannya. Serta setiap tahun nya ada target yang ingin dicapai. Pasti setiap tahun nya Anda dan keluarga akan menjalani nya dengan semangat!

Smoga dapat menjadi manfaat bagi muda mudi yang akan menikah atau yang sudah menikah pun, masih bisa merancang keluarga. Tidak ada kata terlambat untuk suatu hal yang baik.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar