Rabu, 17 Juni 2015

Makna Kehidupan yang Terasing ?

Keluar dari rutinitas sehari-hari : berangkat subuh, bermacetan dengan seluruh warga Indonesia yang bekerja di jantung negara, berkutat dengan layar monitor, canda tawa keluh kesah teman dari mulai masalah pekerjaan sampai masalah keluarga, berbagi informasi dengan ibu ibu di ruang laktasi sampai terus berusaha mengeluarkan tetes demi tetes air kehidupan, solat bersama di mushola, jajan dan ngobrol sebentar di koperasi, bersinggungan dengan masalah pekerjaan, project yang tak kunjung selesai. Sore yang penat dengan hiruk pikuk mobil melaju menuju peraduannya, Tiba di rumah harus menyiapkan makanan untuk buah hati tercinta, Bahkan untuk sekedar bermain dan bercanda pun sudah terlalu lelah. Membereskan kamar sebelum beristirahat. Cek hp dan media sosial untuk memeriksa apakah ada pesanan barang atau tidak. Anak sudah terlelap dengan bantuan susu formula. Menghela napas. Lelah. Setiap hari terlewati seperti itu. 
Hari libur Sabtu dan Minggu pun menjadi hari pemasalan, berdiam di rumah, walau tak sepenuhnya bisa beristirahat, karena masih harus menemani anak bermain, mengganti pampers, menyiapkan dan menyuapi makan. Belum lagi kalau anak sedang batuk, napas nya sesak, terengah engah, Kasihan melihatnya, sedih meninggalkannya ke kantor. Anak sekecil itu harus diurus berpindah tempat setiap hari, Wajarlah kalau badannya ringkih, belum lagi, ASI yang tak bisa sebanyak dulu. Haruskah kulepaskan rutinitas ku di kantor? Padahal selama ini, penghasilan ku di kantor, lumayan bisa membantu perekonomian keluarga. Ya, walaupun sebenarnya sebagian penghasilanku habis untuk membayar orang yang membantu menjaga anak dan membantu pekerjaan rumah. Tak ada tersisa untuk menabung demi masa depan. Suamiku tidak pernah mengharuskan ku untuk bekerja dan tidak juga memaksa ku untuk menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Semua ia serahkan padaku. 
Hari itu, anak ku sakit batuk yang menurutku sudah parah, Badannya panas demam, batuk nya seperti tercekik, ia tidak mau minum apapun. Kata dokter anak langganan kami, kalau anak panas dan tidak mau minum, perlu diwaspadai. Akhirnya kami bawa anak ke Rumah Sakit Hermina Bekasi Barat, Dokter kami pun langsung memutuskan untuk rawat inap. Memasukan jarum infusan pada anak, membutuhkan kekuatan mental bag kami. Mana tega melihat anak menangis teronta ronta dan darah berceceran di mana-mana. Sejak saat itu, muncul keyakinan yang sangat bulat, bahwa aku harus resign.
Per 1 April 2015, resmi lah aku dinobatkan sebagai ibu rumah tangga. Sebelum memasuki rutinitas baru di rumah (mertua), aku memulai usaha jualan. Sehingga masih ada beberapa peser uang yang bisa ku hasilkan. Di hari terakhir aku bekerja, aku mendapat kenyataan bahwa aku hamil. Alhamdulillah. Dengan penuh kehati-hatian dalam bergerak, takut melukai janin di dalam perut, maka gerak ku mulai terbatas. Di sisi lain anak ku sangat aktif, usianya kala itu 1 tahun 3 bulan. Tak ku pungkiri, kelelahan dalam menjalani kehidupan ibu rumah tangga pun tidak kalah dengan rutinitas di kantor. Karena di sini, di rumah, dengan anak, terlibat seluruh jiwa raga dan perasaan, Kuncinya adalah bersyukur, sehingga apapun yang terjadi tidak akan membuat kita sedih. Aku hanya manusia biasa yang punya banyak kelemahan. Masih sering mengeluh pada suami, alhamdulillah Allah memberikan suami yang sangat sabar dan menanggapi setiap keluhan ku dengan dewasa dan diajak untuk mengembalikan semua pada Allah. Ini adalah proses kehidupan yang harus aku, suamiku,  dan anak-anak ku jalani. 
Aku, istri yang sedang berbadan dua, mengurus anak setiap hari dengan rutinitas yang membuat fisik menari nari, emosi melunjak lunjak, kadang tertawa sampai lemas melihat tingkah anak. Bahkan menangis memeluk anak yang kala itu sakit. Melihat nya bermain serius, tak terasa meneteskan air mata. Masa ini, masa menemani nya adalah masa keemasan juga bagi ku. Melihat tumbuh kembangnya, mendengar tangisannya ketika aku tidak ada dalam penglihatannya, mencium seluruh aroma tubuhnya. Indahnya bila diuraikan satu persatu, nampak tak ada peluh terasa. 
Suamiku yang sedang merintis perusahaannya, memulai nya dari nol bersama rekan kerja nya. Memikirkan karyawannya, proyeknya, pekerjaannya, keuangan perusahaan, prospek ke depannya. Masyaallah, begitu hebatnya lelaki ini. Tak pernah ia nampak kan kelelahan itu. Ia slalu meletakan gelas berisi air nya terlebih dahulu karena kalau gelas berisi air itu terus dipegang dan ia bawa kemana mana, maka tumpahlah air nya. Itu perumpamaan yang slalu ia katakan. Suamiku yang sangat percaya akan kekuasaan Allah, percaya bahwa Allah tidak akan memberi cobaan melebihi kekuatan hamba Nya. Maka ini, kehidupan ini adalah yang layak dan paling baik yang tlah Allah siapkan bagi kami. 
Jika terus melihat ke atas dengan hati yang pongah, maka tak kan ada habisnya kita meratapi kondisi saat ini. Tataplah ke atas, tengadahkan tangan meminta pada Sang Maha Memiliki Segalanya. Tundukan hati, memohon. 

Seperti apa kehidupan teman teman? 
Jangan malu, jangan minder. Karena setiap peran dalam kehidupan pasti memiliki makna.
Tergantung peran tersebut, mau kah ia memaknai perannya dalam kehidupan?
Atau hanya membiarkan makna itu menjadi angin yang terasing lalu pergi seiring hancurnya jasad ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar