Cara Bijak Rasulullah dalam Mendidik Anak
Sejak dalam kandungan – 18 Tahun
Karya : Nur Kholish Rif'ani
Ini adalah buku pemberian suami saya. Suatu hari suami saya sedang menunggu rekan kerjanya di mall di daerah Jakarta Utara. Sambil menunggu, dia menghabiskan waktunya di Gramedia. Bertemulah dia dengan buku ini. Ini adalah salah satu dari lima buku yang ia beli. Dari lima buku ini, dua diantaranya adalah buku mengenai kehamilan, dua lagi mengenai cara mendidik anak, dan satu lagi mengenai keuangan keluarga yang sakinah. Subhanallah jika melihat dari judul judulnya, sangat menarik, inspiratif dan bermanfaat.
Makanya mesti kita baca !!!.
Awalnya saya baca buku mengenai kehamilan dan kaitannya dengan gerakan shalat. Kemudian beralih ke buku kehamilan dan tahapan-tahapannya. Buku itu akhirnya diturunkan pada adik suami saya yang sedang hamil baru 1 bulan. Dan pindahlah saya ke buku ini. Cara Bijak Rasulullah dalam Mendidik Anak -Sejak dalam kandungan – 18 Tahun-. Luar biasa buku ini, saya baru baca sampai halaman 49, tetapi sudah menggerakan hati saya untuk segera sharing mengenai manfaat yang didapat dari isi buku ini.
Sekarang kita lihat dari judulnya, "...Mendidik Anak". Bagaimana kita bisa mendidik anak jika orang tua nya tidak belajar. Belajar disini bukan hanya di jenjang pendidikan resmi seperti sekolah atau perguruan tinggi. Banyak di luaran sana yang orang tuanya tidak lulus SD, tapi anaknya melejit menjadi orang yang luar biasa.
Lalu belajar seperti apa yang dimaksud? Orang tua yang senantiasa membuka mata dan hatinya untuk mempelajari kekuasaan Allah, mensyukuri segala nikmat yang Allah berikan, menjaga dan melestarikan apa yang Allah titipkan. Dengan cara apa? Banyak majelis ilmu di luaran sana yang dapat mendukung niat kita untuk belajar. Banyak buku buku yang dapat kita selami, banyak orang, teman, sahabat, rekan, dan keluarga yang bisa membantu dan berbagi ilmu. Tidak ada lagi alasan untuk tidak belajar. Apalagi untuk niat mulia kita, agar anak kita kelak menjadi orang yang berilmu. Manusia punya iman tapi tak punya ilmu maka hanya akan dibodoh bodohi, sedangkan manusia punya ilmu tapi tidak punya iman maka hanya akan menjadi manusia yang sombong yang tidak menyadari bahwa semua kepintarannya dari Allah.
Bagian pertama di buku ini membahas mengenai Bekal Orangtua Dalam Mendidik Anak. Bagaimana kewajiban setiap orang tua dalam mencari ilmu, bahkan Rasulullah mencontohkan doa untuk terhindar dari rasa malas.
Bekal ibu dalam mendidik anak. Saya mengutip dari isi buku ini, Istri yang terbina pasti akan memahami posisi dirinya sebagai mitra suami dalam menjalankan tugas dakwahnya, Maka, ia akan berusaha bahu-membahu dengan suaminya dalam melaksanakan kebaikan, naik dalam lingkungan keluarga maupun masyarakatnya. Sepertinya semua orang sepakat akan hal ini, ketika kita sebagai perempuan ada seorang pria yang melamar, seharusnya kita sudah menyadari bahwa kita kelak akan memiliki partner seumur hidup, yang harus kita terima baik dan buruknya, lemah dan kuatnya.
Kemudian ada lagi kutipan isi buku yang bagus, Seorang ibu dituntut untuk dapat bekerja dengan cerdas, ikhlas dan tuntas,sehingga ia dapat mendukung tugas dakwah suami dan melaksanakan tugas mendidik anaknya. Perhatikan kata kata cerdas, ikhlas, dan tuntas. Ini cakupan kata yang artinya luas. Semua hal tindakan baik itu pekerjaan maupun hal hal kecil yang manusia lakukan dalam hidup ini haruslah dilakukan dengan cerdas artinya kita harus berilmu sehingga dalam melakukan berbagai pekerjaan berlandaskan ilmu, tidak gegabah serta tidak mudah dibohongi/ ditipu. Kemudian ikhlas, benar sekali, ikhlas dengan masalah apapun yang menghadang kita dalam mencapai tujuan, ikhlas dengan kondisi lingkungan pekerjaan kita, ikhlas dengan sifat orang yang berbeda-beda, yang tentu harus kita pahami. Terakhir tuntas. Selesaikan semua pekerjaan kita dengan tuntas. Selesai dan tidak ada hutang apapun. Tuntas disini maksudnya adalah sampai dengan perasaan yang penuh tawakal. Pekerjaan manusia dikatakan selesai ketika ia sudah berserah diri pada Allah, menyerahkan segala hasil yang didapat pada Allah. Karena kita percaya bahwa apapun yang Allah berikan adalah yang terbaik bagi kita saat ini.
Ada lagi ini, Memilihkan ibu yang baik bagi anak meripakan tanggung jawab seorang ayah kepada anaknya. Ini berarti si anak berhak unruk mendapatkan ibu yang salehah. Kalau ini tidak terpenuhi, maka sang ayah telah merampas hak anaknya untuk memiliki ibu yang salehah.
Betapa tugas sang ayah pun tidak kalah beratnya. Sang calon ayah harus teliti dan jeli dalam memilih calon istri dan calon ibu bagi anak-anaknya kelak. Maka kita sebagai perempuan, jika ingin mendapatkan suami yang shaleh, kita juga harus menjadi perempuan yang shalehah.
Preman sekalipun mungkin akan mencari istri yang "benar", untuk mendidik anak-anaknya. Preman sekalipun ingin anak-anaknya kelak menjadi orang yang "benar". Tidak seperti bapaknya.
Di sini dibahas juga mengenai sosok sosok istri pada zaman Rasulullah yang inspiratif.
Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Karena kepada ibulah seorang anak banyak belajar. begitu lahir, anak belajar menyusui dari ibu, belajar tengkurap, duduk, merangkak, berdiri, berjalan, mengucapkan kata pertama, semuanya dengan bantuan ibu. Ibulah yang paling banyak menghabiskan waktu untuk mengurus anak dan memperhatikan pertumbuhan dan perkembangannya dari hari ke hari. Maka tidaklah salah jika kita katakan bahwa setiap tokoh besar yang memiliki andil penting dalam menaklukan berbagai belahan negeri dan kerajaan musuh, serta memiliki nama harum yang disebut-sebut sepanjang masa, selalu dibesarkan dan belajar dari kepribadian seorang ibu yang agung lagi mulia.
Pembahasan selanjutnya adalah mengenai Mendidik Anak Sejak dalam Kandungan.
Islam memiliki tata cara yang sangat cermat, yaitu ketika suami dan istri akan melakukan hubungan suami istri pun ada doanya. Sabda Rasulullah Saw :
"Manakala seseorang diantara kalian menggauli istrinya, terlebih dahulu mengucapkan, 'BISMILLAAHI, ALLAAHUMMA JANNIBNASY SYAITHAANA WA JANNIBISY SYAITHAANA MAA RAZAQTANAA', (dengan menyebut nama Allah, Ya Allah, hindarkan kami dari gangguan setan dan hindarkan pula anak yang akan Engkau anugerahkan kepada kami dari gangguan setan) kemudian dilahirkan dari keduanya seorang anak, niscaya selamanya setan tidak akan mengganggunya." (HR. Muttafaqun 'alaih)
Subhanallah Islam telah mengatur tata cara sebegitu rinci dan indahnya, Allah akan melindungi anak yang bahkan belum berada di rahim perempuan.
Menurut penelitian De Casper, ia berpendapat bahwa :
Perubahan daya menghisap (jempol) bila mendengar suara tertentu.
Mendapatkan kenyamanan bila ibu bicara dengan bahasa daerahnya sendiri.
Bila mendengar cerita yang disukainya, denyut jantung bayi menjadi stabil dan melambat. tetapi akan meningkat bila mendengar cerita yang tidak disukainya.
Intinya kita sebagai calon ibu, harus senantiasa memberikan stimulus yang baik bagi si jabang bayi. Mengucapkan kata-kata yang baik, berusaha untuk menenangkan hati dan pikiran.
Pengalaman saya sendiri mengenai hal ini, saya bekerja dan tak dipungkiri bahwa terkadang saya mengalami stress ketika bekerja. Ketika itu denyut jantung saya berdebar dengan menahan rasa amarah, dan ketika itu si jabang bayi diam tak bergerak untuk waktu yang cukup lama. Saya sempat merasa panik sendiri, sampai akhirnya menyadari bahwa mungkin ini efek dari tingkat stress saya yang terlalu tinggi. Oleh karenya itu saya segera ber-istighfar memohon ampun pada Allah, dan berdoa agar si jabang bayi bisa kembali bergerak beraktifitas seperti biasanya. Tak lama setelah itu, ia bergerak dan entah bagaimana saya mendeskripsikan rasa senang ini. Karena ketika ia bergerak, menendang, bergeliat, atau aktivitas apapun, hal itu membuat hati saya menjadi bahagia.
Dzikir dan doa tak berhenti samapi situ saja, melainkan terus dibaca sampai anak lahir dan seterusnya. Ada beberapa doa yang saya kutip dari buku ini, saya fotocopy dan saya baca setiap habis shalat.
Menyerukan adzan di telinga kanan di Bayi ketika lahir. Bagi sebagian orang hal ini merupakan suatu hal yang mengada-ada. Tetapi makna yang terkandung di dalamnya adalah, ketika bayi baru lahir alangkah baiknya diperdengarkan kalimat tauhid salah satunya dengan adzan atau shalawat.
Rasulullah bersabda :
"Jika diserukan adzan untuk salat, setan lari terbirit-birirt dengan mengeluarkan kentut sampai tidak mendengar seruan adzan" (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Mendidik Anak Dari Lahir Sampai Usia 3 Tahun
1. Merayakan kelahiran bayi dengan 'Aqiqah.
Rasulullah bersabda :
"Dari Aisyah Ra. sesungguhnya Rasulullah Saw. memerintahkan kepada para sahabat untuk mengaqiqahkan anak laki-lakinya dengan dua kambing yang besar dan anak perempuan satu kambing" (HR. Tirmidzi)
2. Memberikan nama yang Baik.
Ada satu hal yang saya kutip dari buku ini dan saya rasa teman-teman harus tau.
Dari Samurah bin Jundub ia berkata, telah bersabda Rasulullah Saw., "Perkataan yang paling dicintai oleh Allah ada empat:Subhanallah, Alhamdulillah, Laailaahaillallaah, dan Allahu akbar, Tidak masalah yang mana di anatara kalimat itu akan engkau mulai. Dan janganlah engkau namai anakny dengan Yasar, Rabah, Najih, dan Aflah. Sebab, engkau nanti akan bertanya:'apakah ia ada di tempat?' jika ternyata tidak ada, maka akan dijawab :'Tidak ada'." (HR.Muslim)
Maksud hadis ini adalah jika orang tersebut bernama Rabah (beruntung), lantas ada seseorang yang mencarinya:"apakah Rabah ada di rumah?". Jika tidak ada, maka akan dijawab: "Rabah tidak ada di rumah" yang artinya keberuntungan tidak ada di rumah. Oleh sebab itulah nama itu dimakruhkan.
Islam sudah mengatur hal seperti itu, yang mungkin bagi kita tidak terpikirkan. Setiap orang tua selayaknya ingin memberikan nama yang terbaik bagi anaknya. Keberuntungan adalah nama yang baik. Tapi hal tersebut dimakruhkan oleh Islam, karena hal tersebut di atas. Subhanallah...
3. Mencukur Rambut Bayi kemudian menimbang beratnya dan bersedekah setara perak dengan berat setara berat rambut bayi tersebut.
4. Mengkhitan anak pada waktunya.
5. Memberikan perhatian ketikan anak sakit.


